Selamat Datang di Era Sharing Economy

By in Blog

Sharing economy, mungkin Anda akhir-akhir ini sering mendengar istilah tersebut. Di era kemajuan bisnis teknologi seperti sekarang ini, model bisnis sharing economy dipandang lebih menguntungkan dibandingkan dengan model bisnis konvensional. Azas kebersamaan yang terbangun berdasarkan tujuan yang sama membuat sharing economy sering diterapkan oleh banyak startup.

Di Indonesia sendiri sudah banyak perusahaan, terutama startup yang membangun bisnis mereka menggunakan model bisnis sharing economy. Sebut saja Nebengers.com yang memanfaatkan teknologi GPS untuk menggaet penumpang yang kebetulan memiliki rute perjalanan yang sama dengan pengendara. Sang pengendara mendapatkan pemasukan tambahan, sedangkan penumpang mendapatkan transportasi yang memadai.

Apa sebenarnya konsep sharing economy itu? Bagaimana sharing economy dapat berkembang dengan pesat di Indonesia?

Menurut Benita Matofska dari The People Who Share, sharing economy adalah ekosistem sosial-ekonomi yang dibangun dengan prinsip berbagi dari berbagai aspek, mulai dari sumber daya manusia, fisik, hingga intelektual. Sharing economy membagi semua hal, mulai dari kreasi, produksi, distribusi, jual-beli dan konsumsi produk/jasa, hingga layanan. Setiap hal tersebut dilakukan oleh orang-orang atau organisasi yang berbeda.

Istilah ‘sharing’ dalam sharing economy pada dasarnya merujuk kepada penggunaan serta akses sumber daya manusia atau aset. Setiap orang yang terlibat masing-masing mendapatkan keuntungannya satu sama lain dengan berbagi aset yang mereka punya. Biasanya, sharing economy melibatkan aset bernilai tinggi yang belum dimanfaatkan secara maksimal dalam kurun waktu yang cukup lama. Daripada hanya mengganggur di rumah, lebih baik disewakan saja. Begitu kira-kira gambaran sederhana dari sharing economy yang sempat heboh di Indonesia beberapa waktu yang lalu berkat Uber dan Gojek.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh agensi marketing, Campbell Mithun, pada tahun 2012 lalu, ditemukan beberapa fakta yang menarik. Penelitian yang ditujukan kepada 400 konsumen di Amerika Serikat ini menunjukkan bahwa orang muda cenderung lebih suka dengan konsep berbagi seperti ini. Sebagai detailnya, Generasi X dan Millennials adalah kelompok usia yang paling banyak tertarik dengan konsep berbagi, 31% dari Gen X dan 24% dari Millennial. Sedangkan hasil sebaliknya diperlihatkan dari responden yang masuk di kategori usia Baby Boomers, yakni 15% saja.

Masih dalam penelitian yang sama, sharer atau pembagi yang paling potensial justru datang dari orang-orang dengan kemampuan finansial menengah ke atas. Mungkin sedikit di luar nalar, namun justru responden yang memiliki penghasilan lebih dari 75.000 dolar setahun lebih banyak yang tertarik untuk bergabung dengan layanan berbagi (dengan 32% responden) dibandingkan dengan responden yang memiliki penghasilan di bawah 40.000 dolar setahun (19%). Ini artinya, masyarakat mulai mengenal bahwa kesia-siaan sangat tidak efisien. Hal ini juga yang kemungkinan akan terjadi pada masyarakat Indonesia.

Lalu apa yang menyebabkan seseorang menolak untuk membagikan asetnya dalam model bisnis sharing economy? Campbell Mithun menemukan bahwa kepercayaan adalah salah satu perhatian utama calon peminjam. Sekitar 67% responden mengungkapkan bahwa mereka menolak untuk bergabung dengan sharing service karena masih kurang percaya, dengan rincian 30% takut barang mereka akan dicuri atau rusak, 23% karena tidak percaya dengan orang asing, dan 14% lainnya dengan alasan pribadi.

Bila potensi tersebut sangat terlihat di Amerika Serikat, apakah sharing economy juga dapat berkembang di Indonesia? Jawabannya tentu bisa. Namun kembali lagi kita harus memperhatikan prinsip dasar dari sharing economy tersebut.

Menurut Rachel Botsman, seorang ahli di bidang collaborative economy, membagi collaborative consumption ke dalam tiga tipe:

  • Product Service System. Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk menawarkan barang sebagai jasa, alih-alih menjualnya sebagai produk. Barang yang dimiliki secara pribadi disewakan kepada perorangan (peer-to-peer). Dengan sistem ini, pola konsumsi individu dapat digeser, yang semula memang membutuhkan benefit atas sebuah produk dan ingin memilikinya, menjadi tidak ingin membelinya sama sekali.
  • Redistribution Market. Barang yang telah dimiliki sebelumnya dipindahkan dari pihak yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkannya. Biasanya, pemindahantangan ini dilakukan secara cuma-cuma. Namun tidak menutup kemungkinan dalam kasus lain, barang tersebut ditukar dengan barang lainnya atau dijual secara komersil. Contoh sederhananya adalah OLX.com yang menjual barang bekas pribadi yang tak terpakai.
  • Collaborative Lifestyle. Dalam sistem ini, individu-individu yang memiliki kegemaran yang sama bergabung untuk saling berbagi atau bertukar aset yang tak berwujud, misalnya waktu, ruang, dan keterampilan. Contoh sederhananya adalah ketika seseorang atau perusahaan menyewakan ruangan sebagai co-working space. Contoh lain yakni penyewaan kamar penginapan secara peer-to-peer yang dilakukan oleh AirBnB.

Sharing economy sendiri sebenarnya bukan hal yang baru di dunia bisnis. Bahkan, sistem ini sudah mulai berkembang sejak 10 tahun lalu. Menariknya, sistem ini bahkan telah lama diterapkan sebagai salah satu sistem ekonomi syariah.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, menurut Andrias Ekoyuono, Business Development Ideosource, kebangkitan sharing economy di Indonesia sebenarnya didukung dengan banyak faktor, antara lain:

  1. Akses internet. Kemajuan teknologi, khususnya internet, memberikan sarana bertukar informasi yang cukup luas. Hal ini membuat para pemberi dan penerima saling menemukan satu sama lain. Cakupannya pun tak terbatas pada siapa atau apa dan lebih intens peer-to-peer.
  2. Perangkat mobile. Sekali lagi, kemajuan teknologi menjadi salah satu pendukung model bisnis ini berkembang dengan pesat. Perangkat mobile yang mudah dibawa kemana-mana memberikan kemudahan akses terhadap informasi itu. Kapan saja dan dimana saja, transaksi dapat dilakukan, bahkan oleh siapapun.
  3. Kemunculan platform marketplace. Inilah yang menjadi hal terpenting menurut Andrias. Terbentuknya marketplace baru memungkinkan seseorang untuk menciptakan relasi baru yang bentuknya bukan lagi dari konsumen-korporasi-pekerja, melainkan menjadi konsumen-wirausaha penyedia produk dan jasa. Dengan demikian, pasar jadi terbuka lebar dan tentu semakin spesifik.

Meski begitu, menurut Andrias, masih ada kekurangan yang bisa timbul dari model bisnis ini. Ketidakseragaman kualitas produk dan layanan dari merchants serta ragam perilaku konsumen membuat model bisnis ini sedikit tidak aman. Untungnya, masalah ini dapat diatasi dengan sistem rating. Saat ini, rating atau jumlah poin yang dikumpulkan oleh penyedia barang/jasa dari para konsumen menjadi salah satu acuan bagi calon konsumen yang akan memanfaatkan penyedia barang/jasa tersebut. Tentu sistem rating ini sangat berguna demi menciptakan kepercayaan calon konsumen terhadap merchant.

Menariknya, semakin bagus layanan yang diberikan oleh merchant, maka semakin banyak pula rating yang diberikan oleh konsumen. Semakin baik nilai yang dimiliki, tentu akan semakin banyak keuntungan yang diraih oleh merchant.

 

Jadi, sudah saatnya kita memberi salam kepada para pelaku bisnis dan mengatakan Selamat Datang di Era Sharing Economy. Semoga pengetahuan di atas dapat memberikan Anda pandangan untuk berkembang dan bergerak sehingga Anda tidak terjebak dalam model bisnis yang telah lapuk dimakan usia.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

wordpress theme by jazzsurf.com